Menikmati angin sepoi-sepoi dengan mendengarkan nyanyian alam sangat menenangkan jiwa. Deru ombak di pantai, nyanyian burung yang berkicau dipadukan dengan hembusan ombak di batu karang, serasa menjadi satu kesatuan simphony irama yang indah. Kita tinggal menambahkan vokal dari suara hati kita. Jika nurani kita bisa senada dengan alam, maka akan tercipta lagu yang menenangkan hati dan akal kita.
Sejenak akan terlupa masalah yang membebani. terbuai dalam alunan melodi yang kita ciptakan sendiri. Tidak perlu berjingkrak-jingkrak atau berteriak-teriak. Cukup duduk diam sejenak sambil memandang garis horizon di ujung laut. Melihat samar di kejauhan para nelayan dan pelaut, yang menebar jaring dan jala agar ada ikan yang tersangkut.
Sebuah rezeki dari alam, yang tersedia untuk kita manfaatkan. Nelayan itu akan mendapatkan ikannya, pada saat dia datang untuk menjemputnya. Tentu pada moment yang tepat, dengan peralatan yang tentu sudah dipersiapkan sebelumnya.
Saat hujan dan badai, tentu bukan saat yang tepat untuk melaut. Tapi itu adalah saat yang tepat untuk mereparasi peralatan. Memperbaiki jaring, menambal perahu yang bolong jika ada, atau cuma memandang jauh sambil menghitung dan mengira kapan badai akan pergi.
Perjalanan ini tiada henti. Sejenak singgah di pantai untuk menenangkan diri. Mendengarkan deru ombak sambil mendengarkan suara hati, sebelum melangkah lagi untuk menjemput rizki.
Memasuki sebuah cafe di suatu kota di Jawa Timur, saya berhenti setelah melihat ada tulisan di lantai berjarak sekitar tiga langkah dari pintu masuk. Dengan menggunakan sorot lampu dari atas, tulisan itu terlihat jelas dan menarik perhatian. Begini penampakannya:
Sejenak termangu. Rasanya sayang kalau tulisan sebagus ini tidak diabadikan dalam photo.
Di postingan sebelumnya sempat saya sentil terkait gelombang electromagnetic dari frekwensi terendah sampai frekwensi tertinggi.Mulai dari radio AM/FM, TV VHF/UHF, RADAR microwave, cahaya tampak, sinar-X sampai gamma ray.
Jika bicara terkait dunia safety, gelombang radiasi electromagnetic ini bisa kita bagi menjadi dua, yaitu radiasi pengion dan radiasi bukan pengion. Yang berbahaya disini adalah radiasi pengion, yaitu X-Ray dan Gamma Ray.
Bagi pengendara motor atau mobil yang akan memasuki sebuah mall atau pusat perbelanjaan di suatu kota, tentu harus melewati pintu gerbang sebelum bisa memarkirkan kendaraannya.
Saat ini, sudah umum ditemui pintu gerbang masuk tersebut di set secara otomatis alias tidak ada petugas yang jaga. Dengan menggunakan kartu e-toll atau dengan memencet sebuah tombol yang tersedia, gerbang akan terbuka dengan sendirinya.
Di suatu minggu siang, kami mengendarai sebuah mobil dan berjejer dalam antrian untuk masuk parkiran sebuah mall. Satu persatu mobil-mobil yang ada di antrian depan berhasil membuka gerbang dan masuk ke tempat parkir hingga akhirnya tersisa satu mobil di depan dan kelihatan sedang panik.
Di mesin itu, mesin untuk membuka gerbang, ada sebuah gambar tangan terbuka di sisi kiri dan sebuah kartu di dekatnya. Dia lambaikan tangannya mengikuti gambar tadi dan berharap gerbang akan terbuka. Ada sebuah tombol warna silver di sisi kanan yang mungkin dia tidak melihatnya. Tangannya terus dia lambaikan di depan mesin yang bergambar telapak tangan sambil berharap gerbang akan terbuka seketika.
Memandangi lautan biru, tentu kurang afdhol jika tidak diabadikan dalam
jepretan kamera. Gugusan pulau kecil yang terserak, terlihat seperti
penambah daya tarik. Mereka seperti pion-pion catur yang terhampar di atas
papan luas tak bertepi yang berwarna biru. "Apakah Tom Hank masih ada di
salah satu pulau kecil itu? Mungkin tidak ada salahnya meminta kapten kapal
untuk sejenak menepi dan melihat kondisi."
"Tom Hank sudah di jemput oleh kapal ferry sebelumnya Mas", seseorang di
sebelah menimpali sambil tersenyum.
"Ow, begitu ya", dari yang awalnya hanya bergumam, bersambut menjadi sebuah
percakapan. "Bagaimana kapal sebelumnya bisa tahu kalau si Tom Hank ada di
situ?", ku sambut celetukan dari orang sebelah dengan sebuah pertanyaan agar
pembicaan menjadi panjang.
Deru ombaknya menggebu menghantam pasir di pinggir pantai. Semilir angin menerbangkan hawa segar yang menerpa wajah dengan santai. Anjing guk guk berlarian berkejaran kadang saling menyeringai. Para bule menyiapkan kayu bakar dan sebagian lagi menyeruput kopi di dalam kedai.
Itu lah yang kulihat di pantai Sekongkang di kala senja. Semburat warna merah telah membelah langit angkasa. Matahari sudah menyiapkan bantal guling dalam peraduannya. Pertanda malam gelap akan segera tiba.
Di garis horizon, kupandangi para peselancar yang masih bermain di atas gulungan ombak. Seketika mereka jatuh saat ombak tersibak. Terhempas ke dalam laut, lalu hanyut. Saat mereka berhasil mengendalikan diri, mereka kembali. Berenang ke arah horizon, menunggu ombak datang, untuk mereka kendalikan lagi.
Beberapa waktu yang lalu kami melakukan setting dan commissioning radiometric measuring system untuk aplikasi Level Gauging. Sebelum terjun ke lapangan, kami diwajibkan untuk melakukan safety induction. Bersama-sama kami dengan para kontraktor/vendor yang lain berkumpul dalam satu ruangan kelas mendengarkan materi yang terkait dengan safety yang berlaku di perusahaan tersebut.
Pada saat itu ada hal yang cukup menarik perhatian ketika ditanya pemateri safety terkait pekerjaan yang akan kami lakukan. Saya jawab waktu itu, "Radiometric Measuring System".
Jika dihubungkan dengan materi safety yang barusan dijelaskan oleh si pemateri, rasanya agak aneh dan janggal ketika kami tidak mendengar komentar apapun terkait safety pekerjaan kami, sementara contractor/vendor yang lain mendapat komentar yang beragam.